Di Balik Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei

Perluasan organisasi

Pengunjung Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, memerhatikan patung-patung pendiri Organisasi Budi Utomo, Sabtu (19/5/2018). Tanggal pendirian organisasi tersebut, 20 Mei 1908, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pendirian Boedi Oetomo dipandang sebagai titik awal tumbuhnya kesadaran nasional rakyat Indonesia.(KOMPAS/Wisnu Widiantoro)

Dokter yang akrab disapa dengan Mas Wahidin itu, saat ke Jakarta bertemu dengan 3 orang mahasiswa sekolah kedokteran Stovia. Mereka adalah Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, dan Suraji.

Ketiga mahasiswa itu sudah lama mengagumi Mas Wahidin lewat majalah Retno Dumilak.

Dalam pertemuan itu, Sutomo mengusulkan kepada Mas Wahidin agar usaha-usahanya diperluas.

Tak hanya bidang pendidikan, tapi juga pertanian, peternakan, perniagaan, industri, dan kesenian.

Nah, untuk mewujudkannya perlu didirikan organisasi atau perkumpulan.

Usul itu kemudian diterima dr Wahidin.

Sutomo dan teman-temannya lalu menyiapkan sebuah pertemuan besar.

Mereka mendanai sendiri pertemuan itu. Bahkan ada yang menjual sarung plekat yang kala itu sangat laris. Ada juga yang menjual sorban, menyumbang uang jajan, juga uang sakunya.

Pertemuan tersebut terlaksana pada 20 Mei 1908. Di sana lahirlah organisasi yang lengkap dengan peraturan-peraturan dasarnya seperti tujuan, rancangan kegiatan, anggota, serta pengurus organisasi.

%d blogger menyukai ini: